DAS Citarum

Penanaman Bambu Citarum Harum dan Mitigasi Bencana Longsor

110000 / Unit

  • Stock : 4999 Unit
  • Production Kick-off : 01-Jan-2020
    2 weeks from now
Share:

Masalah

Tutupan lahan di hulu sungai Citarum tersisa hanya 15 persen dari sekitar 230 ribu hektare lahan yang ada. Dan dari 15 persen tutupan lahan di hulu Citarum, hanya 8,9 persen yang merupakan hutan, sisanya semak belukar. Tutupan lahan si area tersebut saat ini masuk kategori kritis.

Minimnya tutupan lahan akan berdampak terhadap erosi lahan ke Citarum. Sedimen menumpuk di Sungai Citarum terjadi pendangkalan yang mengakibatkan bencana banjir.

Debit air normal Citarum mencapai 41 meter kubik per detik. Namun saat musim hujan debit air dapat menembus 578 meter kubik per detik. Sehingga, rawan terjadinya banjir dan longsor.

Berbeda saat musim kemarau, debit air di Citarum surut drastis hanya 2,7 meter kubik per detik. Hal itu juga terjadi akibat hilangnya mata air dari tahun ke tahun karena minimnya kawasan konservasi, hutan lindung dan strategis.

Penelitian di cekungan Bandung pada tahun 2009, terdata ada 300 mata air, namun pada tahun 2015 menurun menjadi 144 mata air.

Sumber : news.detik.com


Solusi

Di lithosphere atau darat, bambu dapat mengerem laju erosi tanah sampai 80 %, unsur-unsur mikro yang ada di tanah dipertahankannya, soil organic matter terus tumbuh di daerah yang ditanami bambu, kesuburan nya meningkat, kehidupan di tanah terus meningkat.

Di hydrosphere tanaman bambu mengerem laju runoff air hujan hingga 25 %, air ini diresapkan melalui sistem perakaran bambu - dan makin lama makin banyak - menjadi semacam simpanan air di dalam tanah. Akibatnya permukaan air tanah naik sedikit demi sedikit dan tanpa terasa - setelah 20 tahun berlalu - permukaan air tanah itu naik hingga 10 meter.

Tanah-tanah yang semula gersang, akan memiliki sumber mata airnya. Bila suatu bukit ditanami bambu, masyarakat di kaki bukit akan dapat memanen airnya scara berkelanjutan setelah tanaman-tanaman bambu itu dewasa dan rumpunnya dijaga.

Hutan bambu yang terjaga akan menghidupkan kembali sungai-sungai yang mati, rawa dan danau yang kering. Kehidupan air tawar akan kembali marak. Dan bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan atau kebun bambu, kebutuhan airnya dalam jangka panjang akan dapat terjaga.

Di atmosphere-pun demikian, bambu menjadi tanaman yang sangat efektif untuk menyerap CO2, sekaligus juga produsen Oxygen (O2) yang handal. Satu hektar bambu yang sudah tumbuh sempurna dapat menyerap sekitar 147 ton CO2 per tahun, ini kurang lebih cukup untuk meng-offset emisi CO2 30-orang per tahun karena saat ini rata-rata emisi penduduk dunia di kisaran 4.8 ton CO2 per tahun.

Biosphere bersama dengan Kemenko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan), Perhutani dan Kementrian Lingkungan Hidup akan melakukan penanaman bambu sebagai upaya perbaikan lingkungan yang rencananya akan ditanam di sepanjang Daerah Aliran Sungai Citarum.

Untuk langkah pertama, kami akan melakukan penanaman 5000 bibit bambu di wilayah hulu sungai tepatnya di wilayah Rajamandala atau Gunung Halu, Kab. Bandung Barat.

Atas Pertimbangan Karakteristik Lahan yang dipetakkan diatas serta tujuan secara pararel yang ingin didapatkan maka jenis bambu yang direkomendasikan adalah jenis bambu besar baik yang ditanam di dalam kawasan yang dipetakkan, maupun yang ditanam di sepadan sungai, dalam 1 lajur serta ditanam sebagai batas antara tanah perhutani dengan tanah hak; hal ini mengingat dari segi ekologis, estetika maupun ekonomis.



Mekanisme Penanaman

Penanaman bambu dilakukan oleh LMDH Kelompok penanam dan memastikan bibit tertanam dengan baik selama minimal 18 bulan. Setiap 6 bulan sekali Surveyor & Verificator Independen akan melakukan pengecekan terkait perkembangan bibit tersebut. LMDH Kelompok penanam akan mendapatkan Reward (insentif) apabila bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik setiap pengecekan.

Name : Biosphere Lestari Alam
PIC Habiburrahman - (085779572347)

Related Project